Can’t Resist Lust

April 2, 2008

Oleh Oleh From Bandung With Love ; Bahasa Kasih

Filed under: Love in Daily Life — hacques @ 4:31 am

From Bandung With Love adalah film terakhir yang gw tonton di bulan Maret. Satu-satunya motivasi gw menonton filmnya adalah karena gw sangat kangen pada Bandung. Kota tempat gw lahir, dan tempat gw kuliah. Yeah, semua orang secara tidak langsung tentunya akan memiliki kecintaan khusus pada tempat mereka menuntut ilmu.

Gw menonton From Bandung With Love, dengan sejuta pengharapan. Antara lain gw berharap bisa melihat-lihat suasana kota Bandung, atau siapa tahu setting kampus yang dipakai dalam film adalah kampus gw, seperti yang ada di film Jomblo.

Dan semua tentunya tahu jawabannya… gw agak kecewa… Ehm, bukan salah filmnya. Salah gw, karena gw berharap terlalu banyak. Bandung yang digambarkan hanyalah beberapa gambar landmark selama beberapa detik, dan berikutnya pengambilan gambar ala sinetron, close up melulu. Dan pada akhirnya bukan kampus gw juga tuh yang dipilih untuk setting kampus. Hehehe…

Apa boleh buat. Karena teringat udah bayar 50 ribu buat nonton berdua, gw dan co gw akhirnya memutuskan untuk terus menonton. Gw tadinya udah gatel banget pengen walk out, akhirnya bisa konsen ke film, lupakan co gw, dia udah tidur dengan sukses sambil memeluk tas di kursi bioskop…

Hwell, topik yang diangkat di film From Bandung With Love, sukses bikin gw berpikir dan merenung lagi. Topiknya adalah salah satu hal yang cukup sering gw bahas. Tentang perselingkuhan. Menurut jargon di film, ‘Apapun bisa terjadi dalam waktu 6 hari’

Film itu menceritakan seorang cewek penyiar radio, dia membawakan acara bertema cinta. Dan dia mengklaim diri sebagai seorang konsultan cinta. Suatu saat dia merasa geram dengan salah seorang penelepon di radio yang bercerita kalo dia diselingkuhin sama cowoknya. Dan si penyiar radio ini, sebut aja namanya Marsha (nama sebenarnya), dia berniat untuk mengangkat topik perselingkuhan pada acara siaran dia berikutnya, tentunya satu minggu kemudian. Kebetulan pada saat itu, ada seorang teman dekat Marsha yang baru sakit hati karena diselingkuhin cowoknya juga.

Dan si Marsha ini hendak mengadakan riset. Dia lalu menyelidiki seorang cowok Art Director (lupa namanya euy) berferomon tinggi. Marsha ini udah punya pacar, sebut aja namanya Richard (nama sebenarnya juga) yang pada awalnya nggak setuju dengan rencana Marsha. Tapi karena si Marsha memaksa (dengan bilang “Aku nggak suka kalo kamu lebih bawel daripada aku!”) dan si Richard pada dasarnya adalah cowok yang sangat sayang pada Marsha, maka Richard memilih untuk mengalah dan diam (hehehe, kalo kamu nonton, maka kamu akan tercengang betapa langkanya cowok kayak Richard)

Pada suatu waktu, si cowok mantan temennya si Marsha mendatangi Marsha buat ngasih penjelasan. Dan Marsha menolak dengan tegas. Buat dia, seorang yang selingkuh nggak perlu didenger penjelasannya, apapun itu. Oke, itu reaksi wajar,

Sementara itu hari-hari terus berlalu. Singkat kata, Marsha nggak mampu menahan gelombang feromon dari si cowok Art Director. Dia lantas terombang-ambing antara pengen mempertahankan Richard, tapi pengen juga dibelai sama si Art Director. Nah, konflik pun dimulai.

Sepanjang film berlangsung, gw jadi gemas sendiri. Bisa ditebak, si Marsha sendiri pada akhirnya mempraktekkan langsung apa yang disebut selingkuh, cheating, main belakang, lengkap dengan paket ngebohongin pacar, jadi kasar sama pacar, mudah marah tanpa alasan, takut ketahuan, mendadak jadi dandan cantik kalo mau jalan sama si Art Director, dsb. Gw pun dengan sukses kebawa emosi.

Dan di akhir riset, Marsha pada akhirnya memutuskan untuk tetap pada Richard, tapi dia melakukan satu kesalahan fatal. She let the Art Director to kiss her. Meskipun hanya satu goodbye kiss, tapi siapapun bakal berpikir beda dengan si Marsha pada waktu itu.

Dan pada hari si Marsha siaran, dia menerima telepon minta putus dari Richard.

Gw menyumpah nyumpah dengan puas. Oke, mengenai acting para pemeran sih so so ya, malah buat gw acting Richard adalah yang terbagus. Yang bikin gw puas karena apa yang diterima oleh Marsha adalah apa yang memang dia berhak untuk terima.

Orang yang berselingkuh, bukan orang yang berhak memiliki cinta.

In the end, Marsha gets nothing. She lost her boyfriend, she lost the Art Director, she lost her friends (Richard’s sidekicks), and yes, she got nothing. Quite a perfect ending for me.

Jadi, apa bahasan yang pengen gw perjelas disini?

Gw nyoba ngeliat dari sudut pandang Marsha dan Richard. Dan gw jelas melihat bahwa mereka tidak memiliki Bahasa Kasih yang sama (baca buku The Five Love Languages dari Gary Chapman buat lengkapnya).

Love language atau bahasa kasih bagi Marsha adalah Pelayanan. Bukan berarti Marsha adalah seorang nona yang sepatunya harus dibawain, bajunya disetrikain, bukan itu. Tapi Marsha menginginkan kekasihnya untuk melakukan hal-hal kecil yang romantis dan berkesan gentleman. Sinyal bahasa kasih Marsha ditanggapi jelas oleh si Art Director, dia membukakan pintu mobil bagi Marsha, dia menyuapkan makanan ke mulut Marsha, dan lain-lain sebagainya.

Sedangkan bahasa kasih bagi Richard adalah Quality Time. Richard sangat menghargai setiap saat yang dia jalani bersama Marsha. Ini terlihat saat Marsha bad mood dan tidak mau diganggu dengan obrolan, Richard mengambil buku dan dia duduk tenang di samping Marsha. Buat Richard, ada di samping Marsha dan menghabiskan waktu bersama Marsha, itu udah bikin dia bahagia. Richard nggak tahu caranya bersikap romantis ala si Art Director, dan memang bukan itu bahasa kasih yang dia kuasai.

Marsha tidak puas dengan Richard. Dan dia mendapatkan apa yang dia cari dari si Art Director. Sayangnya, Marsha tidak pernah mengatakan apa yang dia mau dari Richard. Semua berjalan tidak seimbang. If only they know about the love languages concept…

But still, Marsha melakukan apa yang disebut selingkuh. Gw punya batasan jelas mengenai mana yang bisa disebut ‘having fun dengan sahabat lawan jenis’ dan yang mana yang bisa disebut ‘selingkuh’.

Yang bikin beda salah satunya adalah apabila seseorang sudah berbohong total pada pasangannya mengenai aktivitas having fun-nya bersama lawan jenis lain, itu udah tergolong selingkuh. Dan ini dilakukan Marsha. Dia berbohong pada Richard mengenai si art director, dan pada si Art Director dia bilang Richard adalah ‘Cuma’ teman kuliah.

Saat itu gw menganggap Marsha adalah orang yang tidak mensyukuri hidup. Hehehe.

Perselingkuhan Marsha ketahuan pertama kali oleh sobat Marsha yang diselingkuhin, yang gw sebut di paragraph awal tadi. Si sobat Marsha berteriak pada Marsha ;

“Lo gede omong ngaku konsultan cinta! Tahu apa lo soal cinta?!!!”

Ini dia… Nah, somehow, gw merasa bisa mengerti perasaan Marsha saat itu. Entah kenapa gw memosisikan diri gw memiliki profesi sama dengan Marsha. Tapi Marsha saat itu sudah kehilangan predikatnya karena dia selingkuh. Tahu apa lo soal cinta?

Gw pun menoleh ke arah cowok yang masih tidur dengan sukses di samping gw, dan waktu itu gw bikin janji pada diri gw sendiri. Whether I’m still with him or not, despite I’m being alone or with someone, kalo gw sendiri berbuat selingkuh, maka blog ini harus ditutup. Ini bentuk tanggung jawab gw terhadap semua pembaca, terhadap semua tulisan gw, kepada orang-orang yang sudah memercayai gw untuk membantu permasalahan cinta mereka dan untuk diri gw sendiri. Then I hope it will never happen, though.

Inti dari cerita si Marsha adalah; dia tidak puas terhadap Richard dan dia mencari pelampiasan pada si Art Director. Marsha tidak sampai hati memutus hubungannya dengan Richard, tapi apa daya Richard duluan yang memutus. Yeah, Richard melihat saat Marsha memberi si Art Director goodbye kiss. Itu udah lebih dari cukup alasan buat mencap Marsha sebagai peselingkuh dan tidak setia. Apapun alasan yang dikemukakan oleh Marsha. Dia toh sejak awal menolak mendengar penjelasan dari seorang peselingkuh, dan itu berarti dia berhak mendapat perlakuan yang sama.

Terus, moral dari ceritanya apa? Simpel aja. Say no to cheat. Dan jangan mencium lawan jenis selain pasangan, kecuali muhrim. Co gw pernah menatap gw dengan pandangan shock sewaktu gw mencium seorang cowok asing yang baru ketemu di mall. Dan berikutnya gw baru memperkenalkan dia sebagai sepupu gw. Barulah co gw ngerti dan selanjutnya dia dengan senang hati bermain ke rumah sepupu laki-laki gw itu. Hehehe.

Dan nggak ada salahnya juga untuk mencoba menyamakan love language dengan pasangan. Mungkin next time bakal gw bahas mengenai love language ini lebih lanjut, tapi pada dasarnya ada lima bentuk bahasa kasih : Pelayanan, Waktu yang Berkualitas, Dukungan, Hadiah, dan Sentuhan.

Setiap orang memiliki bahasa kasih yang berbeda, bisa satu atau mungkin dua. Bahasa kasih gw adalah sentuhan dan waktu yang berkualitas. Bahasa kasih co gw adalah pelayanan dan sentuhan. Setelah tahu bahasa kasih masing-masing, mudah untuk get along dengan pasangan.

Dan ini berlaku untuk semua orang yang kita cintai, baik orang tua, kakek-nenek, adik, sepupu, sahabat, dan lain-lain. Bahasa kasih adik gw adalah hadiah, bahasa kasih nyokap gw juga hadiah dan sentuhan. Bahasa kasih bokap gw waktu yang berkualitas. That’s for example. Cara mencari tahunya gampang.

Tanyakan pada orang yang kamu sayangi, di antara lima hal ini mana yang dia paling suka untuk kamu lakukan ;

  • Membuatkan minum, makanan, menyiapkan sarapan, memijat pundak.

  • Mensupport sepenuh hati apapun yang dia kerjakan, memberi banyak pujian dan mengatakan hal-hal positif untuk dia setiap hari.

  • Mencium, membelai rambut, memeluk, menggandeng tangan.

  • Jalan-jalan berdua, having fun bersama-sama keluarga dan teman, bermain bersama, melakukan hal-hal menyenangkan bersama.

  • Membelikan mainan lucu, boneka yang bagus, memberi barang yang dia butuhkan, membawakan oleh-oleh setiap kali kamu habis pergi kemanapun.

Urutan arti bahasa kasihnya dari pilihan pertama adalah Pelayanan, Dukungan, Sentuhan, Waktu Yang Berkualitas, dan Hadiah.

Semua orang bisa memiliki bahasa kasih yang berbeda. Dan apabila kamu sudah memberikan mereka cinta sesuai bahasa yang mereka gunakan, maka kamu boleh saja meminta sesuai dengan bahasa kasih kamu.

Marsha dan Richard sebenarnya adalah pasangan yang berbahagia, sayangnya mereka tidak menyadari perlunya berkomunikasi dengan pasangan menggunakan bahasa kasih. Dan Marsha justru menemukan orang yang berbahasa kasih sama dengan si Art Director, sayangnya dia orang yang salah.

Satu kata terakhir dari gw buat orang yang selingkuh ^^

“Jangan pernah menyanjung cinta, kalo nggak ngerti maknanya cinta.”

Dah ah sampe sini aja dulu.

7 Comments »

  1. yah yaah jangan diceritaiinnnn blom nontonnn hehehe ..

    kalo gw sukanya jalan2 berdua, have fun bareng, gila bareng.. itu pasti seru hehe .

    ngiri ih punya pacar .. *kesel*

    huh ! *ngambek* ^^

    Comment by benazio — April 2, 2008 @ 2:32 pm

  2. Mensupport sepenuh hati apapun yang dia kerjakan, memberi banyak pujian dan mengatakan hal-hal positif untuk dia setiap hari.

    Ini dong😀

    Comment by Nenda Fadhilah — April 3, 2008 @ 1:21 am

  3. emmm di jogja itu pelem gak nyampe seminggu di bioskop, gagal dah liat marsha, huhu….
    anyway, salam kenal dari sayah😉

    Comment by Dimas — April 3, 2008 @ 7:07 pm

  4. Benazio : Itu artinya bahasa kasih kamu adalah ‘Waktu Yang Berkualitas’. Gyahahaha, ngapain ngiri? Punya pacar itu gampang, asal mau usaha ^^

    Nenda : Hehehehe, I know what you mean, mungkin berikutnya bahasan gw adalah ‘Atas Nama Cinta’. Gyahahahahaha

    Dimas : Salam kenal juga. Hehehe, gw menemukan novel From Bandung With Love di toko buku pada hari yang sama waktu gw mau nonton filmnya. Cari aja di toko buku, pasti ada deh. Bukunya tipis, tapi covernya Marsha kok ^^

    Comment by Hacques — April 8, 2008 @ 3:49 am

  5. iyah tadi nemu novelnya… tapi… marshanya gak gerak, diem doang di cover… *ya iyalah! kekeke*

    Comment by Dimas — April 12, 2008 @ 8:26 am

  6. Nenda : Hehehehe, I know what you mean, mungkin berikutnya bahasan gw adalah ‘Atas Nama Cinta’. Gyahahahahaha

    Wah, jangan kayak lagunya si Rossa dong, teh.

    Comment by Nenda Fadhilah — April 20, 2008 @ 7:05 am

  7. Rikues post ttg yang 5 bahasa kasih dong😀

    Comment by Reina Lunarrune — February 4, 2009 @ 11:56 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: